Film Rumeh Tak Serumeh Dek Yusniar

Tulisan ini telah pula dimuat oleh Harian Aceh pada tanggal 06 September 2009.
Beberapa tanggapan miris dari penikmat dan pelaku media muncul terhadap Film Rumeh. Screening perdananya begitu hambar, dangkal, datar dan tidak menggereget. Alur cerita juga masih mengambang. Terasa sekali pemaksaan beberapa scene dalam sequen-sequennya.
Sulit menangkap pesan damai dari film yang katanya untuk kampanye perdamaian ini. Trauma healing yang diwacanakan-pun berakhir di dataran teoritis dan tanpa solusi.
Alur ceritanya masih dipenuhi oleh banyolan-banyolan konyol yang dimainkan apik oleh Haji Uma, Johni dan Mando Gapi terus diiringin sebuah lagu dangdut yang entah siapa pengarang dan aransernya dari musik tersebut karena yang terdengar beda hanya dinyanyikan dengan syair bahasa Aceh.
Menurut hemat saya ini terlalu Bolliwood-Genre, padahal menurut info dari sumber yang terpercaya film Rumeh ini di garap oleh Sutradara yang berbeda bahkan ada scenarionya.
Apresiasi Saya selaku pribadi Aceh sedikit kesenangan karena minimal di Aceh akhir-akhir ini telah ada peningkatan dalam berseni peran dimana ada perubahan signifikan dari seni peran sandiwara panggung keliling ke seni peran Cinema. Kedua bentuk media ini memiliki karakter sama sekali berbeda, baik dari medium yang digunakan alat dan tehnis produksi sampai kepada cara penyajiannya ke khalayak.
Tehnis Penggarapan
Alur cerita sudah kentara dari awal sehingga hampir tidak ada hal yang mendebarkan dalam flm ini dan pesan sponsor terlalu fulgar tentang damee itu sendiri akhirnya memang sangat hambar dan dangkal. Sebut saja sequen yang menampilkan Yusniar mendapat materi kuliah trauma healing di kampus, kesannya sangat diadakan dan jelas tidak ada tindak lanjut dari sequen tersebut.
Menurut saya alangkah baiknya kalau memang ingin ditampilkan sequence mengenai trauma healing walaupun ini sudah empat tahun paska damai akan lebih baik si Him Morning itu memerankan tokoh korban konflik yang mengalami depresi kejiwaan dimana Yusniar selaku calon sarjana psikologi bisa memberi healing kepada si Him Morning yang mengalami depressi akibat ditinggal mati istrinya yang jadi korban salah sasaran karena terjebak saat baku tembak di saat konflik melanda Aceh. Si Him Morning jadi depressi akibat tak bisa menerima istrinya meninggal seperti itu apalagi istrinya sedang hamil tua saat menjadi korban peluru sasar
Menurut saya peran si Him Morning sebagai orang kena ganguan kejiwaan paska kematian istrinya jauh akan lebih menumbuhkan rasa juga mensuspen alur cerita dari pada sequen di dalam ruangan kelas saja sambil mencercah teori tentang trauma healing.
Kemudian sequence cerita yang memvisualkan damai itu sendiri juga tidak begitu muncul dengan sempurna dalam film Rumeh yang mana katanya menjadi out put dari film ini, pesan damai yang ingin disampaikan justru kalah dengan adegan-adegan konyol Bang Joni dengan Mando.
Kedua adalah Casting serta kostum seperti sequen yang menampilkan Joni dan Mando ambil foto di depan mesjid raya Banda Aceh sebagai keterwakilan dari masyarakat gampoeng yang baru datang ke kota juga tidak di dukung oleh kostumnya Joni karena hampir tak ada beda dengan kostum-kostum yang di pakai oleh para pemuda kota yang menjadi musuh Joni dalam memperebutkan Yusniar.
Ketiga sudut pengambilan dan pergerakan kamera juga tidak bisa mendogkrak adegan-adegan jadi lebih menggereget karena banyak pergerakan dan sudut pengambilan tidak memiliki motivasi, contoh adegan saat bang Joni memberi komentar atas pertanyaan Mando tentang tugu pena sebaiknya ada adegan yang meperlihatkan secara Medium long Shoot di mana Mando dan Joni sedang melihat tugu ujung pena ke arah langit, lalu di cut to Low Angle shoot yang memperlihatkan tugu dari arah bawah ke langit.
Selanjutnya Sound atau audio, ada dialog yang seharusnya bisa di dubbing di studio, misal saat adegan Joni menjelaskan secara blak-blakan kepada Mando tentang maksud tugu pena suaranya dikalahkan oleh atmosfer lalu lintas yang bising, sebaiknya adegan ini di ambil visual saja terus audionya bisa dimasukkan saat editing atau bisa saja di ambil audio sama visual tetapi nantinya saat editing audio bawaan asli bisa dikecilkan sehingga dialog dubbing bang Joni dan Mando Gapi lebih terdengar serta atmosfer asli dari adegan tersebut juga masuk.
Yang terakhir adalah lighting, hemat saya dalam film Rumeh ada beberapa scene berlatar belakang terang lalu subjeknya gelap. Apakah ini disengaja atau memang nihil lighting, kalau jawabannya tidak disengaja kenapa harus berulang dalam beberapa sequen selanjutnya yang seharusnya itu tidak perlu, karena kalau untuk alasan artisitik itu pun kurang bisa diterima karena tidak pada tempatnya misal saat Joni, Mando dan Haji Uma berdialog di bawah rumah panggung lalu ada perubahan scene menampilkan para subjek gelap dan cahaya latar nya overlight. Scene siluet seperti ini tidak mengandung motivasi apapun apalagi dikaitkan dengan alasan artistik jelas susah menghubungkannya tetapi kalau alasannya tidak memiliki dana untuk menyewa lighting ini jelas lebih masuk akal dan pasti akan dimaklumi.
Secara keseluruhan garapan Film Rumeh ini memang tidak memberikan hal yang baru dari beberapa VCD yang pernah saya tonton sebelumnya dari amatan saya malah VCD-VCD Eumpang Breuh sebelum Rumeh lebih memiliki bobot cerita dan terarah baik dari lelucon, pesan-pesan moral dan ending yang jelas.
Pun demikian Film rumeh ini akan menambah satu katalog baru dalam riwayat film Aceh karena belajar dari ketidaksempurnaan sekarang akan menjadikan kita matang untuk karya selanjutnya dan menerima kritikan serta masukan perbaikan adalah seperti datangnya harta yang tak perlu dicari. Akhirnya saya berharap teruslah berkarya para cinematographer Aceh. Damai untuk semua.
Oleh Deddi Iswanto, penikmat dan pelaku Media Audio Visual tinggal di Banda Aceh

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s