Seniman Aceh Award

SENIMAN ACEH AWARD, antara wacana dan perjuangan
( by dEDY iBRAJOEM mOESA )

Ada banyak golongan Dosa besar bangsa-bangsa dunia yang utama dan sering luput dari kesadaran kita bersama, dua diantara yang paling popular adalah ;

Dosa terbesar setiap bangsa dalam sejarah bangsanya bukanlah semata-mata melalaikan dan menelantarkan warisan Perang, rampasannya, pahlawannya serta kebanggaan kepadanya. Namun dosa terbesar sebuah bangsa juga diakibatkan karena telah membiarkan seniman, budayawan dan pelaku adat bangsanya, dalam minus perhatian terhadap keberlangsungan karya serta hidup, apresiasi dan perhatian yang layak akan kita kepada mereka-mereka yang telah berkarya melebihi keinginan dan kecintaan pada dirinya sendiri. Pertanyaannya pertama yang muncul adalah sudahkah kita berpikir, bertindak dan melakukan sesuatu kepada pahlawan pahlawan kita yang bukan dari golongan pejuang bersenjata dan bentuk perlawanan fisik lainnya tersebut, namun mereka adalah golongan yang tidak pernah tidur nyenyak di malam hari gelisah terus menerus akan nasib bangsa, budayanya dan seni tradisinya, mereka sering kelaparan dalam cita-citanya sering harus tersisih dan sendiri karena perjuangan dan pendiriannya, pertanyaan kedua sudahkah kita menghargai mereka dengan sedikit saja kepantasan ?! Pertanyaan ketiga adalah bagaimana caranya menghargai dan memberi perhatian kepada para penelor karya yang berimbas pada tolak ukur seni budaya sebuah bangsa di antara bangsa-bangsa dunia ?, Sangat banyak bentuk perhatian yang bisa kita lakukan dalam upaya melestarikan karya serta kisah hidup mereka sebagai sebuah warisan karya seni anak bangsa, salah satunya dengan merekam setiap karya mereka lalu membukukan atau memvisualkan dalam format lainnya seperti Film atau Video ( DVD, VCD ) sehingga akan menjadi contoh bagi generasi yang datang berikutnya untuk lebih giat berkarya dan bukan hanya untuk berbangga saja bahwa mereka memiliki leluhur memiliki seni budaya tinggi sementara mereka sendiri menjadi generasi indolen, impoten, pasif, perusak dan mati.

Refleksi Romantisme Sejarah budaya Bangsa

Ada banyak contoh bangsa yang telah sadar bahwa pentingnya menjaga keberlangsungan adat istiadat dan segala pernak pernik seni budaya lainnya, contoh sebut saja Tanger sebuah kota di Moroko yang telah mengkombinasikan antara seni tradisi dengan unsur moderen yang datang dan hidup saling berdampingan tanpa harus melenyapkan apa yang telah ada, contoh kalau sudah banyak motor mesin diciptakan ya semestinya Geurubak Keubeu, peudati dll jangan dilenyapkan fungsinya kata aktifis lingkungan hidup kenderaan tradusional ikut mengurangi produksi efek rumah kaca, di indonesia bisa kita ambil contoh di bali, bahwa di sana semua unsur budaya hindu mereka sangat lestari baik ceremonial dan upacara keagamaan lainnya juga unsur-unsur peniggalan lainnya sangat terawat, namun akhir akhir ini sedikit terkesan dibuat-buat karena tuntutan komsumsi turis, lagi-lagi kita salah sudut pandang dalam melestarikan budaya.
Contoh kesadaran lainnya datang dari negara mapan dan maju lihat saja negara-negara di eropa, ada banyak sekali bangunan peninggalan sejarah yang masih berdiri kokoh dan terawat, padahal dulunya saat bangsa Asia barat dan afrika utara ( mesir ) sudah membagnun Istana-istana dari batu pualam, lapisan emas, tembaga dan perak, mereka bangsa barat masih tidur di atas pohon-pohon kayu besar, persis seperti cara mawah hidup di taman nasional Leuser masa sekarang. Kalau kita di aceh tidak demikian, ada sedikit saja taman kota warisan Kerajaan siapa yang baru saja terpilih jadi pemimpin kalau bisa menuwujudkan jadi proyek pembagunan beton dengan dalih alasan macam-macam ( mengapa harus ditunda?! ), contoh kasus lainnya di kabupaten bireun kabupaten yang baru merdeka dari Aceh Utara beberapa tahun yang lalu, ada sebuah tugu penuh sejarah, berdiri kokoh diperempatan jalan utama dan sekaligus menjadi pengakuan sejarah dimana disana Soekarno menjadi bukti telah membubuhkan tandatangannya sebagai tanda pengakuannya terhadap Kepahlawanan Pejuang-Pejuang Bireun dalam mempertahankan kemerdekaan RI 1948 saat belanda melakukan Agressi besar-besaran di Indonesia dan bireun menjadi tempat persembunyian Soekarno saat Jogjakarta yang sempat di jadikan ibukota sementara RI waktu itu berhasil dikuasai kembali oleh belanda, sangat sayang sekali karena terlalu tergopoh-gopoh mengartikan pembangunan Kota lewat menterengnya Warna, Kita harus menghancurkan Cagar Budaya dimana itu adalah bukti Otentik Pengakuan seorang Pemimpin negara yang hampir tak memiliki Negara saat itu, dan karena kegigihan pejuan Aceh saat itu maka Aceh tidak menjadi bagian daerah yang dimasuki lagi saat belanda telah kembali menguasai Hindia Belanda 1948, kemudian menjadikan itu alasan Soekarno saat bargaining tingkat tinggi dengan Belanda yakni saat Belanda mengklaim bahwa Indonesia telah berhasil di kuasai kembali oleh mereka dan Soekarno mengatakan bahwa Kalian belanda tidak lah menguasai indonesia seutuhnya, karena ada satu wilayah yang luput dari penaklukan Kalian, yakni Aceh, hal ini menjadikan Klaim nya secara Internasional, lemah, gagal dan tidak sah atas kepemilikan kembali daerah bekas koloninya itu ( indonesia ). Maka berdikarikah kita dan sudah dewasakah melihat diri kita, baru aja ada tawaran kertas dengan angka-angka yang tidak sanggup menghitung dengan tangan kita sudah goyah dan tergesa-gesa menyulap semuanya menjadi wah dan mentereng tapi keropos dari dalam, jangan lupa INGAT kasus Soeharto yang memimpin selama 33 tahun dan indonesia terlihat sebagai negara yang giat membangun segala sektor, namun coba lihat hasilnya, begitu rapuh, keropos dan mudah ambruk. Jawabannya cari sendiri, lho kok!
Kembali lagi ke pokok cita cita awal, bahwa penghargaan pada pelaku Seni dan budaya dan melestarikan seni budaya adalah mutlak dan harus mendapat dukungan kita semua. ( di tulis dari kuta raja bayangan, desa Ulee Nyeue kecamatan Banda Baru Aceh Utara ).

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s